Cara Baru Ukur Stres Anak Autis Lewat Sampel Rambut - Megasuara.com
Life  

Cara Baru Ukur Stres Anak Autis Lewat Sampel Rambut

Megasuara.com – Jakarta, Para peneliti di Australia berhasil mengembangkan pendekatan baru untuk menilai stres kronis pada anak-anak dengan autisme. Penelitian ini digagas oleh Neuroscience Research Australia (NeuRA) bekerja sama dengan University of New South Wales (UNSW), dan dinilai sebagai terobosan dalam pemantauan kesehatan mental anak.

Studi tersebut melibatkan lebih dari 580 anak dengan rentang usia antara dua hingga 17 tahun. Peserta penelitian terbagi ke dalam beberapa kelompok, yakni anak dengan autisme, saudara kandung nonautistik, serta anak-anak lain yang tidak memiliki hubungan keluarga, sehingga hasil penelitian dapat dibandingkan secara lebih komprehensif.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan mengukur kadar hormon kortisol melalui sampel rambut masing-masing anak. Metode ini memungkinkan peneliti menilai tingkat stres jangka panjang selama tiga hingga enam bulan, berbeda dengan pemeriksaan darah atau air liur yang hanya menggambarkan kondisi sesaat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan gejala autisme yang lebih berat justru memiliki kadar kortisol rambut yang lebih rendah. Temuan ini terutama terlihat pada anak yang mengalami gangguan perilaku serta tingkat tekanan internal yang tinggi, sehingga memberi gambaran baru tentang hubungan antara stres dan spektrum autisme.

“Kami menemukan bahwa pengukuran kortisol dari rambut dapat memberikan wawasan penting mengenai bagaimana stres berkaitan dengan kondisi autisme yang dialami anak,” ujar Adam Walker, peneliti dari NeuRA, dalam keterangannya.

Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa kadar kortisol rambut yang lebih tinggi berkaitan dengan gangguan tidur, seperti sering terbangun pada malam hari. Faktor lain yang turut memengaruhi kadar hormon ini meliputi usia anak dan kondisi sosial ekonomi keluarga, termasuk tingkat pendapatan.

Profesor Valsamma Eapen dari UNSW menjelaskan bahwa pendekatan ini memberikan gambaran stres jangka panjang secara noninvasif, sehingga sangat bermanfaat ketika metode pengambilan darah atau air liur sulit dilakukan, terutama pada anak dengan sensitivitas tinggi.

Para peneliti berharap metode pengukuran ini dapat melengkapi penilaian perilaku yang selama ini digunakan dalam diagnosis dan pemantauan autisme. Selain lebih praktis, cara ini juga dinilai lebih nyaman dan minim stres bagi anak dibandingkan pemeriksaan medis konvensional.

Temuan ini diharapkan mampu membantu orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan untuk lebih memahami dampak stres terhadap perkembangan anak dengan autisme. Ke depan, pendekatan ini berpotensi membuka jalan bagi intervensi yang lebih tepat sasaran dalam mendukung kesehatan mental anak.

Dengan memanfaatkan sampel rambut sebagai indikator biologis, para ahli menilai metode ini dapat menjadi alat tambahan yang efektif untuk memantau stres kronis, khususnya pada kelompok anak yang rentan dan membutuhkan perhatian khusus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *