Megasuara.com – Jakarta, Pemerintah Indonesia terus memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara Eurasia untuk memperkuat sektor industri nasional dan mendukung modernisasi pertanian. Upaya tersebut kembali ditegaskan melalui kunjungan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ke Belarus dalam rangkaian agenda diplomasi ekonomi pada pertengahan Mei 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Indonesia dan Belarus membahas peluang kerja sama di sektor alat berat, kendaraan industri, teknologi pertanian modern, hingga pengembangan industri rendah emisi. Pertemuan itu juga menjadi bagian dari penguatan hubungan bilateral kedua negara setelah penandatanganan Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) beberapa waktu lalu.
Kunjungan Airlangga berlangsung di Kota Minsk dan mencakup sejumlah industri strategis milik Belarus yang selama ini dikenal memiliki kapasitas besar dalam produksi kendaraan berat dan teknologi mekanisasi pertanian. Delegasi Indonesia meninjau perusahaan Minsk Tractor Works (MTZ), MAZ atau Minsk Automobile Plant, serta BelAZ Holding Management Company.
Pemerintah Indonesia melihat Belarus sebagai salah satu mitra potensial dalam mendukung agenda ketahanan pangan nasional. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui penggunaan teknologi modern dan mekanisasi di berbagai daerah sentra pangan.
Airlangga menilai pengalaman Belarus dalam pengembangan alat mesin pertanian dapat menjadi referensi penting bagi Indonesia. Menurutnya, modernisasi sektor pertanian membutuhkan dukungan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat daya saing hasil pertanian nasional.
Saat mengunjungi MTZ, delegasi Indonesia mempelajari pengembangan traktor dan alat pertanian yang dirancang untuk berbagai kondisi lahan. Pihak Belarus juga menawarkan peluang transfer teknologi dan program pelatihan teknis bagi tenaga kerja Indonesia. Skema tersebut dinilai penting agar kerja sama tidak hanya berorientasi pada impor alat, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri dalam negeri.
Selain membahas sektor pertanian, Indonesia turut menjajaki peluang pengembangan kendaraan komersial dan kendaraan industri bersama MAZ. Pembahasan mencakup kemungkinan perakitan lokal, penguatan rantai pasok, hingga pengembangan kendaraan rendah emisi yang sejalan dengan target transisi energi nasional.
Kerja sama pada sektor kendaraan industri dinilai memiliki prospek besar karena kebutuhan alat transportasi logistik dan kendaraan berat di Indonesia terus meningkat. Pemerintah juga mendorong industri otomotif nasional agar mampu menghasilkan kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Delegasi Indonesia kemudian melanjutkan kunjungan ke BelAZ Holding Company yang dikenal sebagai produsen kendaraan tambang dan alat berat berskala besar. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas potensi kerja sama pengembangan ekosistem perawatan alat berat pertambangan serta peluang pemanfaatan komponen berbasis sumber daya alam Indonesia.
Indonesia juga menawarkan potensi penggunaan baterai nikel untuk kendaraan berat dan dump truck pertambangan. Langkah ini dinilai relevan dengan agenda hilirisasi mineral yang terus diperkuat pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Belarus disebut tertarik mempelajari pengembangan teknologi kendaraan berat berbasis energi baru. Di sisi lain, Indonesia membutuhkan dukungan teknologi untuk meningkatkan efisiensi sektor pertambangan dan transportasi industri.
Airlangga menjelaskan bahwa kebutuhan kendaraan berat di Indonesia sangat besar, terutama untuk mendukung aktivitas pertambangan dan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah. Karena itu, pemerintah membuka peluang kerja sama yang dapat memberikan nilai tambah bagi industri nasional.
Kerja sama antara Indonesia dan Belarus tidak hanya berfokus pada perdagangan barang, tetapi juga pengembangan teknologi dan investasi industri jangka panjang. Pemerintah berharap kolaborasi tersebut mampu membuka akses pasar baru sekaligus meningkatkan daya saing produk nasional di kawasan Eurasia.
Belarus sendiri dikenal memiliki basis manufaktur yang cukup kuat di kawasan Eropa Timur. Sektor manufaktur negara itu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional dan menjadi salah satu penopang utama ekspor.
Di bidang pertanian, Belarus berhasil mengembangkan sistem mekanisasi modern yang mendukung tingkat swasembada pangan tinggi. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Indonesia tertarik memperkuat hubungan kerja sama dengan negara tersebut.
Selain sektor industri dan pertanian, kedua negara juga membahas peluang pengembangan bioenergi. Salah satu topik yang muncul dalam pembahasan ialah pengolahan singkong menjadi ethanol sebagai sumber energi alternatif.
Indonesia menilai pengembangan ethanol berbahan baku singkong dapat menjadi solusi tambahan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian lokal. Belarus pun menunjukkan minat terhadap potensi pengembangan energi berbasis pertanian tersebut.
Rangkaian pertemuan di Belarus menjadi bagian dari agenda diplomasi ekonomi Indonesia di kawasan Eurasia. Sebelum tiba di Minsk, Airlangga juga melakukan kunjungan kerja ke Kazakhstan dan Rusia untuk membahas penguatan kemitraan strategis di berbagai sektor.
Pemerintah Indonesia saat ini memang tengah memperluas kerja sama perdagangan dengan negara-negara nontradisional. Strategi tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu sekaligus membuka peluang ekspor baru bagi produk nasional.
Implementasi I-EAEU FTA diperkirakan akan memberikan akses lebih luas bagi produk Indonesia ke pasar Eurasia. Pemerintah berharap perjanjian tersebut mampu meningkatkan volume perdagangan dan investasi antara Indonesia dengan negara-negara anggota Eurasian Economic Union.
Pengamat ekonomi menilai pendekatan diplomasi ekonomi yang dilakukan Indonesia dapat memperkuat posisi nasional di tengah dinamika perdagangan global. Kerja sama industri dan transfer teknologi juga dinilai lebih menguntungkan dibanding hubungan dagang yang hanya berfokus pada ekspor bahan mentah.
Kunjungan ke Belarus sekaligus menunjukkan upaya pemerintah mempercepat transformasi sektor industri dan pertanian nasional melalui kemitraan internasional. Dengan dukungan teknologi dan investasi yang tepat, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sektor pangan, memperkuat industri alat berat, serta memperluas pasar ekspor ke kawasan Eurasia.
Sementara itu, pelaku industri berharap pembicaraan yang telah berlangsung dapat segera ditindaklanjuti dalam bentuk kerja sama konkret. Dunia usaha menilai kebutuhan modernisasi alat pertanian dan kendaraan industri di Indonesia masih sangat besar sehingga peluang kolaborasi dengan Belarus cukup terbuka dalam beberapa tahun ke depan.
Rekomendasi untuk kamu

Megasuara.com – Jakarta, Pemerintah Iran mulai menunjukkan sinyal baru dalam hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat…

Megasuara.com – Jakarta, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengirim sinyal keras kepada Iran setelah…

Megasuara.com – Jakarta, Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memunculkan dinamika baru setelah Iran…

Megasuara.com – Jakarta, Yerusalem kembali menjadi pusat ketegangan setelah aparat keamanan Israel memperketat akses menuju…

Megasuara.com – Jakarta, Hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali menjadi sorotan dunia setelah…
