Sebelumnya, dr Icha diketahui sempat mendapatkan perawatan medis akibat mengalami tekanan psikologis setelah muncul dugaan adanya intimidasi dari sejumlah pihak saat dirinya menjalankan tugas sebagai dokter di Rumah Sakit Leona Kefamenanu. Peristiwa tersebut terjadi ketika ia menangani pasien anak yang mengalami gigitan ular pada Sabtu (13/6/2026).
Paman dr Icha, Fabianus Banase, menjelaskan bahwa saat kejadian korban berada di rumah bersama dua adiknya. Ketika itu, ayah dr Icha sedang berada di kebun, sedangkan ibunya masih menjalankan aktivitas pekerjaan.
Fabianus mengatakan, salah satu adik dr Icha yang juga berprofesi sebagai dokter kemudian naik ke lantai dua rumah. Saat tiba di atas, adiknya menemukan dr Icha sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Menurut perkiraan keluarga, dr Icha kemungkinan telah meninggal dunia sekitar 20 menit sebelum ditemukan. Setelah kejadian tersebut, pihak keluarga segera melakukan proses evakuasi dan membawa jenazah ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk menjalani pemeriksaan awal.
Dari hasil pemeriksaan luar, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh dr Icha. Setelah berdiskusi, keluarga memutuskan tidak melanjutkan proses otopsi. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di Baumata untuk disemayamkan bersama keluarga, kerabat, dan para pelayat.
Sebelum meninggal, dr Icha diketahui sempat menjalani perawatan selama kurang lebih enam hari sejak 15 Juni 2026. Setelah kondisi kesehatannya membaik, ia diperbolehkan kembali ke rumah pada 21 Juni 2026 dan menjalani pengobatan lanjutan melalui rawat jalan.
Masih Sempat Berkomunikasi Sebelum Meninggal
Fabianus mengungkapkan bahwa dirinya masih sempat bertukar pesan dengan dr Icha pada Jumat (26/6/2026), tepat di hari sebelum korban ditemukan meninggal.
Dalam komunikasi tersebut, Fabianus meminta keponakannya untuk lebih fokus memulihkan kesehatan dan tidak terlalu memikirkan permasalahan yang sedang terjadi.
Ia juga menyampaikan rencana untuk bertemu dengan dr Icha di Rumah Sakit Bhayangkara sekitar pukul 16.15 WITA guna membahas pemeriksaan lanjutan. Namun, sebelum pertemuan tersebut berlangsung, keluarga justru menerima kabar bahwa dr Icha telah meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WITA.
Kabar tersebut membuat keluarga terpukul karena mereka tidak pernah menyangka dr Icha akan mengalami kondisi seperti itu. Fabianus juga menyebut bahwa korban meninggalkan sebuah surat dan ponsel di lokasi kejadian.
Namun, keluarga belum dapat mengetahui isi surat maupun memeriksa ponsel tersebut karena keduanya sudah diamankan oleh pihak kepolisian untuk kebutuhan penyelidikan.
Dugaan Tekanan Psikologis Saat Bertugas
Sebelum meninggal dunia, nama dr Icha menjadi perhatian publik setelah muncul dugaan bahwa dirinya mengalami tekanan psikologis akibat kejadian saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu.
Ketika itu, dr Icha sedang menangani seorang pasien anak yang menjadi korban gigitan ular. Pihak keluarga menyebut bahwa dokter tersebut telah memberikan pelayanan sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit serta mengikuti arahan dokter spesialis anak.
Namun, situasi berubah ketika keluarga pasien meminta tindakan medis tertentu yang menurut pertimbangan dokter belum diperlukan dan tidak tersedia di rumah sakit tersebut.
Paman dr Icha lainnya, Victor Manbait, mengatakan bahwa setelah kejadian itu terdapat dua orang yang mengaku sebagai anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU) datang ke ruang perawatan untuk meminta penjelasan mengenai kondisi pasien.
Victor menyebut bahwa saat itu terjadi percakapan dengan nada tinggi. Salah satu pihak disebut sempat menunjuk ke arah wajah dr Icha ketika meminta penjelasan terkait penanganan pasien.
Peristiwa tersebut diduga membuat dr Icha mengalami tekanan mental. Ia disebut menangis saat masih menjalankan tugas dan kemudian mengalami kondisi psikologis yang menurun hingga harus mendapatkan perawatan.
Menurut Victor, dr Icha mengaku masih merasa takut dan tertekan setelah kejadian tersebut karena bentakan yang diterimanya ketika bekerja.
Anggota DPRD TTU Membantah Tuduhan Intimidasi
Dua anggota DPRD TTU yang disebut berkaitan dengan kejadian tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah adanya tindakan intimidasi terhadap dr Icha maupun tenaga kesehatan lainnya.
Therensius menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki maksud untuk menekan atau mengintimidasi dokter. Ia menjelaskan bahwa nada suaranya memang sempat meninggi karena situasi yang membuat panik akibat kondisi pasien.
Ia menegaskan bahwa reaksi tersebut muncul karena kekhawatiran terhadap pasien, bukan karena ingin melakukan ancaman kepada tenaga medis.
Sementara itu, Norbertus Tubani mengatakan bahwa dirinya bersama Therensius hanya meminta penjelasan mengenai kondisi pasien. Setelah mendapatkan informasi dari dokter, keduanya mengaku telah menyampaikan apresiasi serta permintaan maaf kepada pihak rumah sakit dan tenaga kesehatan yang bertugas.
Hingga saat ini, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya dr Icha. Aparat masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi serta memeriksa barang bukti yang berkaitan dengan kasus tersebut.
Pihak berwenang juga belum menyimpulkan adanya keterkaitan langsung antara kematian dr Icha dengan dugaan intimidasi yang sebelumnya ramai diperbincangkan.





