Bocah SD Ngada Tewas, Surat untuk Ibu Jadi Sorotan Warga - Megasuara.com

Bocah SD Ngada Tewas, Surat untuk Ibu Jadi Sorotan Warga

Megasuara.com – NTT, Tragedi memilukan terjadi di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, ketika seorang bocah berusia 10 tahun, YBS, ditemukan tewas gantung diri di dekat pondok tempat tinggalnya, Kamis (29/1/2026). Korban tinggal bersama neneknya yang telah berusia 80 tahun, setelah orangtuanya tinggal berjauhan.

Sebelum peristiwa tragis tersebut, YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen, kebutuhan yang tampak sederhana namun sangat berarti baginya. Permintaan itu tidak dikabulkan, dan diduga hal tersebut memicu kesedihan mendalam pada bocah malang ini. Rasa kecewa dan sedih yang tidak tersampaikan ini tampaknya menumpuk dalam hatinya hingga berakhir pada keputusan yang sangat tragis.

Di lokasi kejadian, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang ditujukan kepada ibunya. Surat itu berisi pesan perpisahan yang sangat menyentuh hati, di mana korban meminta agar ibunya tidak menangis atau terlalu merindukannya. Bahkan, YBS menggambar emoji menangis sendiri di surat tersebut, menunjukkan bahwa ia ingin menyampaikan emosinya dengan cara yang paling personal dan nyata. Kasi Humas Polres Ngada, Benediktus E. Pissort, menegaskan bahwa surat tersebut diyakini asli. “Penyidik telah melakukan pencocokan dengan tulisan korban di buku tulisnya, dan hasilnya sesuai,” ujarnya.

Sejumlah warga setempat juga dimintai keterangan untuk membantu penyelidikan. Kornelis Dopo (59), Gregorius Kodo (35), dan Rofina Bera (34) menjadi saksi yang menceritakan kegiatan sehari-hari korban sebelum kejadian. Keterangan mereka memberikan gambaran tentang kehidupan YBS dan rutinitasnya, sekaligus membantu polisi memahami kondisi psikologis korban.

Kematian YBS mengejutkan dan membuat warga desa berduka. Banyak orang menyatakan prihatin dan berharap agar kasus ini menjadi peringatan penting tentang perhatian terhadap kesehatan mental anak-anak. Pihak kepolisian menekankan agar keluarga dan masyarakat lebih peduli terhadap kondisi psikologis anak-anak di lingkungan mereka, terutama ketika mereka menunjukkan tanda-tanda kesedihan atau tekanan emosional.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa komunikasi dan perhatian terhadap anak-anak sangat penting. Perhatian sekecil apapun, seperti mendengarkan keluhan mereka atau menanggapi permintaan sederhana dengan empati, bisa menjadi kunci untuk mencegah hal-hal tragis yang tidak diinginkan. Kasus YBS mengingatkan kita semua bahwa kesehatan mental anak sama pentingnya dengan kebutuhan fisik mereka, dan setiap anak berhak mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang terdekatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *