Megasuara.com – Depok, Situ Rawa Kalong, proyek revitalisasi bernilai miliaran rupiah yang pernah dijanjikan menjadi ruang publik unggulan di Depok, kini menghadapi tantangan besar. Fasilitas yang dulu dibanggakan kini menunjukkan tanda-tanda terbengkalai dan kurang terawat setelah beberapa tahun beroperasi.
Proyek revitalisasi untuk Situ Rawa Kalong digagas dengan tujuan memperbaiki fungsi ekologis sekaligus menjadi ruang aktivitas warga. Anggaran besar sekitar Rp 20–21 miliar telah disiapkan pada masa pemerintahan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Tujuan utamanya adalah memperluas resapan air, menyediakan jalur jogging, dan memperkaya ruang publik warga Depok di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis.
Namun kondisi di lapangan jauh dari harapan awal. Saat dikunjungi akhir pekan lalu, jalur jogging dipenuhi sampah berserakan. Beberapa fasilitas bahkan terlihat rusak dan tidak terpakai. Toilet umum yang seharusnya memberi kenyamanan pengunjung justru terkunci rapat tanpa alasan jelas.
“Sampah berserak dan fasilitas yang tak terurus menunjukkan kurangnya perhatian terhadap perawatan,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya. Ia juga menyayangkan minimnya tenaga operasional yang menangani perawatan harian situ tersebut.
Salah satu ikon Situ Rawa Kalong, jembatan apung, kini ditutup karena kerusakan tali pengaman dan potensi bahaya bagi pengunjung. Penutupan ini dilakukan demi keselamatan warga setelah beberapa insiden anak-anak tergelincir ketika berada di atas jembatan.
Sebelumnya, fasilitas seperti jembatan apung, jogging track, dan ruang aktivitas warga menjadi daya tarik utama kawasan ini. Bahkan, sejumlah UMKM sempat tumbuh di area sekitarnya karena munculnya kunjungan warga untuk berolahraga dan bersantai.
Petugas operasional yang sehari-hari bertugas di Situ Rawa Kalong mengatakan bahwa perawatan sangat terbatas karena hanya satu petugas yang menangani seluruh area. Alat dan bahan kebersihan pun seringkali dibeli secara mandiri dari kotak sumbangan sukarela yang disediakan.
Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa tanpa perbaikan manajemen dan dukungan anggaran yang memadai, fungsi ekologis dan sosial situ ini akan semakin menurun. Risiko kerusakan yang lebih parah dan kehilangan manfaat lingkungan menjadi ancaman nyata bila perbaikan tidak segera dilakukan.
Komunitas warga pun muncul mencoba membantu, melakukan kerja bakti di hari-hari tertentu untuk membersihkan area. Usaha ini menunjukkan adanya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan ruang publik yang seharusnya bisa dinikmati bersama.
Di tengah kekecewaan warga, ada harapan baru bahwa pemerintah daerah dan pihak terkait dapat mengambil langkah cepat. Perbaikan fasilitas, peningkatan pengawasan, serta alokasi anggaran perawatan yang jelas adalah kunci untuk mengembalikan fungsi aslinya.
Situ Rawa Kalong kini menjadi refleksi penting tentang bagaimana proyek besar akan bermakna jika dirawat bersama, dengan dukungan pemerintah dan masyarakat secara berkesinambungan.





