Amnesty International turut memberikan perhatian terhadap kasus ini. Organisasi tersebut menyoroti kampanye disinformasi yang sempat menyerang Andrie Yunus sebelum dan sesudah insiden penyiraman air keras terjadi. Sejumlah akun anonim di media sosial menyebarkan narasi negatif terhadap korban karena aktivitas advokasi yang ia jalankan bersama KontraS.
Sementara itu, Muhammad Rosidi yang juga menjadi korban penyiraman air keras di Bangka Belitung ikut masuk dalam pembahasan resolusi Parlemen Eropa. Rosidi dikenal aktif mengkritik praktik tambang ilegal dan dugaan penyelundupan komoditas timah di wilayah tersebut. Serangan terhadap dirinya membuat perhatian internasional semakin besar terhadap keamanan aktivis lingkungan di Indonesia.
Tekanan internasional diperkirakan terus meningkat apabila aparat belum mengungkap dalang utama dalam kasus tersebut. Banyak pihak menilai penyelesaian kasus Andrie Yunus akan menjadi ujian penting bagi komitmen Indonesia terhadap perlindungan HAM dan penegakan hukum. Publik juga terus menunggu langkah konkret aparat dalam memburu semua pihak yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan itu.
Hingga kini, proses persidangan terhadap empat terdakwa masih berlangsung. Oditur militer menjadwalkan ulang agenda pembacaan tuntutan setelah muncul pemeriksaan saksi ahli tambahan. Di tengah proses itu, kelompok masyarakat sipil terus mengawal jalannya sidang agar aparat tidak menghentikan penyidikan hanya pada pelaku lapangan.
Kasus Andrie Yunus kini berkembang menjadi isu internasional yang tidak hanya menyangkut tindak kriminal biasa. Perhatian dunia terhadap perkara ini memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap pembela HAM dapat berdampak luas terhadap citra demokrasi dan penegakan hukum sebuah negara. Pemerintah Indonesia pun menghadapi tuntutan besar untuk membuktikan keseriusan dalam mengusut tuntas kasus tersebut hingga ke akar utamanya.




