Megasuara.com – Jakarta, Umat Muslim menjalani puasa Ramadan dengan tekad kuat menahan lapar dan haus sejak fajar hingga matahari terbenam. Banyak orang mengaku menahan lapar terasa relatif mudah. Namun, fenomena berbeda justru muncul saat menahan diri dari reaksi emosional di media sosial. Fenomena ini muncul di tengah lonjakan penggunaan digital yang tinggi selama Ramadan.
Psikolog klinis Rika Ermasari menjelaskan ada alasan kuat di balik perbedaan kemampuan ini. Paparan konten digital yang intens menghasilkan overstimulasi pada otak. Rangkaian keputusan mikro seperti scroll, klik atau balas komentar membuat otak terus bekerja ekstra. Kondisi ini menyebabkan rentang perhatian menjadi pendek dan menurunkan kapasitas kontrol diri.
Keputusan mikro yang menumpuk menciptakan kelelahan mental atau decision fatigue. Kondisi mental tersebut membuat orang lebih cenderung bereaksi secara impulsif terhadap konten yang provokatif atau memicu emosi. Ketika energi mental turun, kontrol diri pun ikut melemah.
Selama Ramadan, perubahan pola makan dan tidur memengaruhi kestabilan energi dan emosi. Tubuh yang lelah atau kurang cairan membuat sensitivitas meningkat. Di situasi ini, komentar negatif atau provokatif di media sosial lebih mudah memicu reaksi emosional dibanding hari biasa.
Rika juga menyebut bahwa platform digital memang dirancang untuk merangsang respons cepat. Notifikasi instan, video pendek, dan sistem like serta komentar memicu sensasi penghargaan cepat di otak. Ketika energi sedang rendah seperti saat puasa Ramadan, otak memilih respons emosional yang cepat daripada berpikir panjang.
Esensi puasa menurut ajaran Islam bukan hanya menahan lapar dan haus saja. Puasa juga melatih pengendalian diri, termasuk menjaga perilaku, ucapan, dan emosi. Di dunia digital, tantangan itu semakin besar karena reaksi sering muncul sebelum pikiran rasional bekerja.
Untuk mengatasi hal ini, ahli menyarankan praktik sederhana yang konsisten seperti memberi jeda sebelum membalas komentar. Menarik napas sejenak, refleksi singkat, atau melakukan peregangan bisa membantu menenangkan reaksi emosional. Dengan begitu kita ikut membangun pengendalian diri yang lebih baik selama Ramadan dan seterusnya.
Rekomendasi untuk kamu
Megasuara.com – Jakarta, Tekanan hidup yang datang terus-menerus ternyata tidak hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga…
Megasuara.com – Jakarta, Sarapan tidak lagi sekadar rutinitas pagi sebelum memulai aktivitas. Banyak ahli gizi…
Megasuara.com – Jakarta, Praktik meditasi kini semakin mendapat tempat di tengah masyarakat modern yang menghadapi…
Megasuara.com – Jakarta, Kehilangan orang terdekat sering meninggalkan luka emosional yang mendalam dan tidak mudah…
Megasuara.com – Jakarta, Fenomena meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di berbagai perairan Indonesia tidak hanya memicu…
Megasuara.com – Jakarta, Fenomena kekerasan seksual masih menjadi masalah serius yang terus menghantui berbagai lapisan…