Sejumlah peserta aksi mengaku sengaja turun ke jalan karena merasa suara masyarakat belum mendapat perhatian yang cukup. Mereka menilai demonstrasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk menyampaikan tekanan kepada pemerintah dan lembaga legislatif. Para mahasiswa juga meminta pemerintah daerah membuka ruang dialog yang lebih luas agar masyarakat dapat menyampaikan kritik tanpa harus menunggu aksi besar di jalanan.
Sementara itu, anggota DPRD yang menjadi sorotan dalam video viral tersebut mengaku tidak mengetahui anaknya ikut bergabung dalam demonstrasi. Ia sempat mencoba menghubungi anaknya sebelum aksi berlangsung, namun panggilan dan pesan yang dikirim tidak mendapat respons. Ia baru menyadari keberadaan anaknya setelah mahasiswa tersebut membuka orasi di atas mobil komando.
Momen itu membuat suasana demonstrasi berubah lebih cair untuk beberapa saat. Sejumlah mahasiswa tertawa ketika mengetahui hubungan keluarga antara orator dan anggota DPRD tersebut. Meski begitu, aksi tetap berjalan tertib dan para peserta demonstrasi terus melanjutkan penyampaian tuntutan. Aparat keamanan juga tetap mengawal jalannya aksi agar situasi tetap kondusif hingga demonstrasi selesai.
Fenomena anak menyampaikan kritik langsung kepada orang tuanya yang menjabat sebagai pejabat publik memunculkan banyak respons di media sosial. Sebagian warganet menilai peristiwa tersebut menunjukkan dinamika demokrasi yang sehat karena perbedaan pandangan tidak menghalangi kebebasan menyampaikan aspirasi. Banyak pengguna media sosial juga memuji sikap keduanya yang tetap profesional di ruang publik.




