BGN menjelaskan bahwa program MBG lebih fokus pada pemenuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, anak sekolah, dan kelompok rentan lainnya. Pemerintah menilai peningkatan kualitas gizi ibu menyusui dapat membantu produksi ASI yang lebih baik untuk bayi. Karena itu, program MBG tidak hanya menyalurkan makanan bergizi kepada anak sekolah, tetapi juga memperhatikan kebutuhan gizi keluarga secara menyeluruh. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Meski demikian, pemerintah tetap membuka kemungkinan penggunaan susu formula lanjutan dalam kondisi tertentu. BGN menyatakan tenaga kesehatan dapat memberikan rekomendasi khusus apabila bayi atau balita mengalami masalah kesehatan tertentu yang membutuhkan tambahan nutrisi. Namun, pemerintah menegaskan keputusan tersebut harus melalui pemeriksaan medis dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Langkah itu bertujuan menjaga keselamatan bayi sekaligus memastikan penggunaan susu formula tetap sesuai kebutuhan medis.
Sejumlah organisasi kesehatan anak juga ikut memberikan perhatian terhadap polemik susu formula dalam program MBG. Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI mengingatkan pentingnya menjaga praktik ASI eksklusif untuk bayi usia dini. Organisasi tersebut meminta pemerintah tetap berhati-hati dalam menyusun kebijakan distribusi nutrisi bagi bayi dan balita. Para dokter anak menilai pemberian susu formula tanpa pengawasan medis dapat memengaruhi keberhasilan menyusui di masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat sempat memunculkan berbagai pertanyaan setelah muncul informasi mengenai susu dalam program MBG. Sebagian warga mengira pemerintah akan mengganti ASI dengan susu formula bagi bayi kecil. BGN langsung memberikan klarifikasi untuk menghindari kesalahpahaman yang lebih luas. Pemerintah memastikan program MBG tidak bertujuan menggantikan ASI, melainkan mendukung pemenuhan gizi masyarakat secara menyeluruh.
Pemerintah juga terus memperkuat sistem pengawasan dalam pelaksanaan program MBG di berbagai daerah. BGN menargetkan peningkatan kualitas distribusi makanan, keamanan pangan, serta pengawasan standar gizi selama program berjalan. Langkah itu dilakukan agar setiap penerima manfaat memperoleh makanan yang aman dan sesuai kebutuhan nutrisi. Pemerintah berharap kualitas pelaksanaan program terus meningkat dari tahun ke tahun.




