Megasuara.com – Jakarta, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan kembali mengemukakan pandangannya tentang konflik bersenjata yang masih melanda berbagai wilayah dunia, termasuk di Timur Tengah, dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi serta geopolitik global. Luhut menilai banyak ketegangan internasional saat ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari faktor struktural dalam hubungan internasional yang melibatkan aktor-aktor besar dunia.
Dalam sejumlah kesempatan pidato dan unggahan di akun media sosialnya, Luhut menyentil kebijakan beberapa negara kuat, terutama yang berasal dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Menurutnya, dominasi kekuatan tertentu dalam menentukan arah politik internasional setidaknya turut memperumit penyelesaian konflik global yang berlarut-larut. Secara implisit, ia menyebut kebijakan militer dan politik luar negeri negara adikuasa tersebut seringkali berkontribusi pada ketegangan berkepanjangan di banyak kawasan konflik.
Meski demikian, Luhut juga menegaskan pentingnya Indonesia menjaga prinsip non-blok dan tidak berpihak secara sepihak kepada satu kekuatan dunia di atas kekuatan lain. Ia mengingatkan bahwa posisi Indonesia sebagai negara besar dan berpengaruh di Asean harus mengedepankan diplomasi yang inklusif dan seimbang. Menurutnya, Indonesia tidak cocok untuk mengambil sikap bermusuhan dengan negara berpenduduk mayoritas Islam atau negara lain demi mempertahankan hubungan kerja sama internasional yang sehat.
Di samping kritik terhadap peran negara adikuasa, Luhut juga menyinggung apresiasinya terhadap peran beberapa negara yang dinilai memainkan peran konstruktif dalam kerangka perdamaian dan pembangunan dunia. Ia berujar bahwa tidak semua negara Barat dinilai negatif, sebab banyak negara dari barat yang turut memberikan pujian serta dukungan terhadap langkah pembangunan dan kebijakan Indonesia di forum internasional seperti kerja sama ekonomi, investasi, dan upaya penyelesaian konflik melalui dialog serta diplomasi. Sikap apresiatif tersebut diutarakan sebagai bentuk pengakuan atas pendekatan diplomatik Indonesia yang dianggap mendorong stabilitas regional.
Terlebih lagi, Luhut menyerukan agar Indonesia tidak terpecah oleh konflik eksternal dan tetap fokus pada penguatan ketahanan nasional di bidang ekonomi, energi, dan pangan. Ia menekankan strategi soft power serta keterlibatan aktif dalam mekanisme internasional merupakan jalan yang lebih efektif dibandingkan sekadar berkoalisi secara militer dengan satu blok negara. Luhut menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia harus memperhatikan keberlanjutan perdamaian serta kesejahteraan rakyat Indonesia tanpa menjadi alat konflik antara kekuatan besar dunia.





