Megasuara.com – Jakarta, Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Kamis pagi. Mata uang Garuda turun ke kisaran Rp17.030 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pelaku pasar merespons cepat perkembangan konflik yang kembali memanas. Sentimen global langsung menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Analis pasar melihat pelanggaran kesepakatan gencatan senjata menjadi pemicu utama tekanan. Serangan terbaru yang dilancarkan Israel ke wilayah Lebanon meningkatkan kekhawatiran investor global. Situasi tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia dalam waktu singkat. Kenaikan harga energi biasanya memperbesar tekanan terhadap negara importir minyak seperti Indonesia. Akibatnya, rupiah kehilangan daya tahan terhadap dolar AS.
Selain faktor eksternal, kondisi ekonomi domestik turut memberi tekanan tambahan. Cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan cukup signifikan pada akhir Maret 2026. Penurunan ini mencapai miliaran dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, surplus perdagangan Indonesia tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kombinasi dua faktor tersebut membuat sentimen positif domestik belum mampu menopang rupiah.
Pelaku pasar juga mencermati dinamika kebijakan global yang berkembang cepat. Amerika Serikat sebelumnya menerima proposal negosiasi untuk meredakan konflik kawasan. Namun, implementasi di lapangan belum berjalan sesuai harapan. Ketegangan baru justru muncul akibat perbedaan interpretasi isi kesepakatan. Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian yang langsung memengaruhi pasar keuangan global.
Di sisi lain, volatilitas rupiah dalam beberapa hari terakhir menunjukkan pola fluktuatif. Sebelumnya, mata uang ini sempat menguat saat muncul kabar gencatan senjata sementara. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama akibat perkembangan terbaru di lapangan. Perubahan sentimen global terjadi sangat cepat sehingga pasar sulit menemukan arah yang stabil.
Para analis memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak dalam tekanan jangka pendek. Rentang pergerakan diprediksi berada di kisaran Rp17.020 hingga Rp17.080 per dolar AS. Investor akan terus memantau perkembangan konflik serta kebijakan ekonomi global. Stabilitas rupiah ke depan sangat bergantung pada meredanya ketegangan geopolitik.
Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Langkah intervensi dan penguatan fundamental ekonomi dinilai penting untuk meredam gejolak. Jika tekanan eksternal mereda, peluang pemulihan rupiah tetap terbuka. Namun, selama konflik berlangsung, risiko volatilitas masih akan membayangi pasar.
Rekomendasi untuk kamu

Megasuara.com – Jakarta, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) menolak menerima gugatan terkait pernyataan Fadli Zon…

Megasuara.com – Jakarta, Ketua DPR, Puan Maharani, meminta pemerintah segera menjelaskan kenaikan harga BBM nonsubsidi….

Megasuara.com – Jakarta, Permasalahan sampah terus menjadi tantangan serius di berbagai daerah Indonesia. Pemerintah kini…

Megasuara.com – Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan Luhut Binsar Pandjaitan di Istana…

Megasuara.com – Jakarta, Isu dugaan penamparan oleh Panglima Komando Pasukan Khusus kembali ramai dibahas publik….
