Megasuara.com – Jakarta, Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira memberikan tanggapan terkait prosesi adat yang dijalani Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi saat melakukan safari politik di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6). Andreas menyampaikan respons dengan nada santai ketika ditanya mengenai ritual adat berupa menginjak kepala kerbau yang dilakukan dalam acara tersebut.
Saat muncul pertanyaan apakah pihak PDIP merasa tersinggung dengan simbol ritual tersebut, Andreas justru menanggapinya dengan tertawa. Ia menjelaskan bahwa simbol partai yang dipimpinnya bukanlah kepala kerbau, melainkan banteng dengan moncong putih.
“Kalau ada anggapan bahwa menginjak kepala kerbau itu dianggap sebagai bentuk sindiran kepada PDIP, ya saya kira itu keliru. Ha-ha-ha, karena simbol PDIP bukan kepala kerbau. Lambang kami adalah banteng moncong putih,” ujar Andreas.
Menurut Andreas, persoalan utama bukan terletak pada ritual adat yang dilakukan, tetapi bagaimana posisi Jokowi sebagai mantan kepala negara harus tetap dipandang secara luas. Ia menilai sosok presiden memiliki kedudukan sebagai simbol persatuan bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya mewakili kelompok atau wilayah tertentu.
“Seorang presiden itu bukan hanya milik satu kelompok masyarakat saja. Presiden adalah simbol yang menaungi seluruh rakyat dan berbagai budaya yang ada di Indonesia,” kata Andreas.
Ia kemudian menyampaikan pandangannya bahwa Jokowi sebagai mantan presiden seharusnya mampu mengambil peran yang lebih besar di tingkat global. Andreas berharap Jokowi dapat menunjukkan kiprah di dunia internasional, bukan hanya berkegiatan dalam lingkup daerah.
“Harus naik kelas dong, panggungnya juga harus berbeda. Masa seorang mantan presiden masih bermain di ruang yang lokal saja? Seharusnya bisa membawa nama Indonesia di tingkat dunia,” ucap Andreas.
Ia juga mempertanyakan tujuan dari berbagai aktivitas politik yang dilakukan Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Menurutnya, seorang mantan kepala negara memiliki kesempatan untuk memberikan pengaruh yang lebih luas dibanding sekadar mencari dukungan politik.
“Mantan presiden punya kapasitas besar. Jadi perannya harus lebih luas, bukan sekadar mencari dukungan suara atau membangun pengaruh di tingkat tertentu,” lanjut Andreas.
Sebelumnya, Jokowi mendapatkan gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” dalam sebuah prosesi adat Lampung yang digelar di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung. Dalam acara tersebut, Jokowi mengenakan pakaian adat Lampung dan duduk di kursi kehormatan sebelum menjalani rangkaian prosesi.
Salah satu bagian dari acara tersebut adalah ritual menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah. Prosesi itu menjadi bagian dari rangkaian pemberian gelar adat kepada Jokowi oleh masyarakat adat Lampung.
Menanggapi berbagai perhatian publik terhadap ritual tersebut, Ketua DPP PSI, Bestari Barus menjelaskan bahwa prosesi tersebut bukan berasal dari permintaan Jokowi. Ia menegaskan bahwa kegiatan itu merupakan bagian dari tradisi masyarakat adat Lampung sebagai bentuk penghormatan.
“Itu bukan ritual yang dibuat oleh Pak Jokowi. Beliau hanya menjadi pihak yang menerima gelar adat dari masyarakat Lampung,” ujar Bestari.
Bestari menjelaskan bahwa Jokowi hadir sebagai penerima penghargaan adat atas kontribusinya selama menjabat sebagai presiden. Menurutnya, seluruh rangkaian acara merupakan bentuk apresiasi dari masyarakat setempat.
Sementara itu, tokoh adat Lampung Mawardi Rahma Harirama yang memiliki gelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur menjelaskan bahwa pemberian gelar adat atau muakhi merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak lama dalam kehidupan masyarakat Lampung.
“Prosesi muakhi ini sudah menjadi bagian dari budaya Lampung sejak ribuan tahun lalu. Tradisi ini merupakan penerapan nilai piil pesenggiri yang mengajarkan penghormatan, persaudaraan, serta menjaga hubungan baik antar sesama,” jelas Mawardi.
Ia menyebut salah satu nilai utama dalam budaya Lampung adalah nemui nyimah, yaitu sikap menerima tamu, membangun hubungan sosial, dan menjaga keharmonisan dalam masyarakat. Karena itu, pemberian gelar adat kepada tokoh tertentu menjadi bagian dari penghormatan budaya yang masih dijaga hingga saat ini.
Rekomendasi untuk kamu

Megasuara.com – Jakarta, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), menyampaikan bahwa salah satu tujuan…

Megasuara.com – Jakarta, Perdebatan antara sejumlah tokoh politik kembali menjadi perhatian publik setelah anggota DPR…

Megasuara.com – Jakarta, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyampaikan klarifikasi mengenai isu keterlibatan mantan Gubernur Sulawesi…

Megasuara.com – Jakarta, Partai Demokrat kembali menyoroti posisi politik PDI Perjuangan (PDIP) dalam pemerintahan saat…

Megasuara.com – Jakarta, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyoroti pentingnya komitmen integritas dalam proses rekrutmen…
