Megasuara.com – Jakarta, Hubungan politik antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Solidaritas Indonesia kembali memanas setelah pernyataan terbaru dari elite PDIP yang menyinggung pengaruh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, terhadap masa depan PSI. Pernyataan itu muncul di tengah isu bergabungnya Jokowi dalam struktur penting PSI yang beberapa waktu terakhir ramai dibicarakan publik dan pengamat politik nasional.
Juru bicara PDIP menilai keberadaan Jokowi tidak otomatis mampu mendongkrak elektabilitas PSI. Mereka bahkan menyinggung hasil Pemilu 2024 yang menunjukkan PSI gagal menembus ambang batas parlemen nasional meskipun saat itu Jokowi masih menjabat sebagai presiden. Kritik tersebut langsung memicu respons dari sejumlah kader PSI yang menganggap PDIP mulai merasa terganggu dengan manuver politik Jokowi pasca lengser dari kursi kekuasaan.
Situasi ini memperlihatkan hubungan antara PDIP dan Jokowi belum sepenuhnya membaik setelah ketegangan politik yang terjadi sejak Pilpres 2024. Dalam beberapa kesempatan, PDIP berulang kali menyampaikan bahwa kemenangan partai selama dua dekade terakhir lahir dari kekuatan kader dan basis ideologi partai, bukan semata karena faktor Jokowi. Pernyataan tersebut memperjelas adanya perebutan pengaruh politik menjelang dinamika Pemilu 2029 mulai terbentuk sejak dini.
Pengamat politik melihat sindiran PDIP bukan sekadar kritik biasa. Pernyataan itu dianggap sebagai pesan terbuka bahwa partai berlambang banteng tersebut tidak lagi menganggap Jokowi sebagai simbol utama kekuatan politik mereka. Sejak hubungan keduanya retak pasca Pilpres 2024, PDIP berusaha membangun kembali identitas partai tanpa ketergantungan terhadap figur mantan wali kota Solo tersebut.
Di sisi lain, PSI justru semakin terbuka menunjukkan kedekatan dengan Jokowi. Partai yang kini dipimpin putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, terus memanfaatkan efek popularitas keluarga Presiden ke-7 RI itu untuk memperluas pengaruh politik mereka. Beberapa kader PSI bahkan menyebut Jokowi masih memiliki basis massa kuat di daerah yang dapat membantu konsolidasi partai menjelang kontestasi politik mendatang.
Pernyataan elite PSI yang meminta Jokowi aktif turun ke masyarakat memperlihatkan strategi baru partai tersebut. Mereka berharap kehadiran Jokowi dapat menghidupkan mesin politik PSI di berbagai daerah yang selama ini kesulitan bersaing dengan partai besar. Rencana safari politik Jokowi ke sejumlah wilayah juga dianggap sebagai sinyal bahwa mantan presiden itu masih ingin memainkan peran penting dalam panggung politik nasional.
Meski demikian, sejumlah analis menilai tantangan PSI tidak sederhana. Popularitas figur tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan struktur partai di akar rumput. Pada Pemilu 2024, PSI memang mengalami kenaikan suara dibanding pemilu sebelumnya, tetapi partai tersebut tetap gagal melampaui parliamentary threshold untuk masuk DPR RI. Fakta itu membuat sebagian pengamat meragukan kemampuan PSI menjadi kekuatan besar hanya dengan mengandalkan pengaruh Jokowi.
Perseteruan antara PDIP dan PSI juga memperlihatkan perubahan peta koalisi politik nasional. Dulu, Jokowi lahir dari rahim politik PDIP dan menjadi simbol kemenangan partai tersebut selama dua periode pemerintahan. Namun kini, hubungan keduanya justru berubah menjadi rivalitas terbuka yang sering memunculkan sindiran politik di ruang publik. Kondisi itu memunculkan spekulasi bahwa Jokowi tengah membangun kendaraan politik baru di luar PDIP.
Beberapa tokoh politik nasional ikut menyoroti arah manuver Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Sebagian menilai Jokowi ingin mempertahankan pengaruh politiknya melalui PSI, sementara lainnya melihat langkah tersebut sebagai upaya menjaga warisan politik keluarga. Isu ini semakin kuat setelah sejumlah kader PSI secara terbuka menyebut Jokowi sebagai tokoh sentral yang dapat memperkuat posisi partai di masa depan.
Di tengah perdebatan itu, masyarakat juga mulai menyoroti bagaimana pertarungan pengaruh antarpartai dapat memengaruhi stabilitas politik nasional. Banyak pihak berharap rivalitas tersebut tetap berlangsung dalam koridor demokrasi dan tidak berubah menjadi konflik berkepanjangan. Sebab, publik menilai tantangan ekonomi dan sosial saat ini jauh lebih penting dibanding perang pernyataan antar elite politik.
Pengamat komunikasi politik menilai perang opini antara PDIP dan PSI kemungkinan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Kedua pihak memiliki kepentingan besar menjelang Pemilu 2029. PDIP ingin mempertahankan identitas sebagai partai nasionalis terbesar, sedangkan PSI berusaha memperbesar pangsa pemilih muda dengan memanfaatkan efek Jokowi dan figur keluarga presiden.
Meski saling melontarkan sindiran, kedua kubu sebenarnya sama-sama memahami besarnya pengaruh Jokowi dalam politik Indonesia. Selama satu dekade memimpin negara, Jokowi berhasil membangun citra populis yang kuat di mata masyarakat. Modal itulah yang kini menjadi rebutan banyak kelompok politik untuk memperkuat posisi mereka dalam pertarungan kekuasaan berikutnya.
Dinamika terbaru ini memperlihatkan bahwa suhu politik nasional belum benar-benar mereda setelah pergantian pemerintahan. Persaingan antarpartai mulai bergerak lebih awal dengan strategi dan narasi masing-masing. Di tengah kondisi tersebut, publik kini menunggu langkah berikutnya dari Jokowi, apakah tetap menjaga jarak dari partai politik atau justru semakin aktif membangun kekuatan baru bersama PSI.
Rekomendasi untuk kamu

Megasuara.com – Jakarta, PDI Perjuangan (PDIP) menegaskan bahwa soliditas internal partai tetap terjaga meski Presiden…
Megasuara.com – Jakarta, Upaya penyelesaian sengketa ketenagakerjaan yang seharusnya berjalan damai justru berubah menjadi insiden…
Megasuara.com – Jakarta, Ketua DPR RI, Puan Maharani, menegaskan bahwa pembahasan RUU Pemilu terus berlanjut…
Megasuara.com – Jakarta, Partai Kebangkitan Bangsa mulai menyusun arah politik baru menjelang kontestasi nasional. Partai…

