Megasuara.com – Jakarta, Pakar psikologi dari organisasi profesional menegaskan bahwa edukasi mengenai seks sebaiknya diberikan sejak usia sangat dini. Menurut mereka, mengenalkan konsep tubuh dan batasan pribadi bisa membantu anak berkembang dengan lebih sehat secara emosional maupun fisik.
Pendidikan yang dimaksud bukan pembahasan hubungan seksual. Ia lebih kepada pengenalan nama bagian tubuh dan pemahaman tentang batasan diri sendiri dan orang lain. Tujuan utamanya adalah agar anak tahu bagian tubuh yang boleh disentuh dan yang tidak.
Pakar menyarankan orang tua memulai edukasi tersebut saat anak berusia antara tiga sampai empat tahun. Pada fase ini, istilah yang dipakai harus sederhana dan mudah dipahami. Penjelasan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anak memahami informasi baru.
“Anak perlu tahu bagian tubuh mana saja yang bersifat privat,” ujar seorang psikolog klinis. Mereka menambahkan bahwa anak juga harus diajak mengenali perbedaan antara sentuhan yang aman dan yang membuat tidak nyaman.
Selain itu, pakar mengingatkan pentingnya anak belajar mengatakan “tidak”. Anak juga perlu tahu siapa saja orang dewasa yang dapat diajak bicara bila situasi membuatnya takut atau bingung.
Pada usia enam sampai sembilan tahun, materi pendidikan bisa diperluas. Anak mulai diajari tentang privasi yang lebih jelas dan risiko berinteraksi dengan orang asing maupun orang yang dikenal.
Para pakar sepakat bahwa peran orang tua sangat penting di rumah. Keluarga harus menjadi tempat pertama anak belajar tentang batasan tubuh dan tentang bagaimana menjaga keselamatan diri. Ini juga sejalan dengan ajakan terbaru dari lembaga perlindungan anak yang menekankan peran keluarga dalam mencegah kekerasan seksual terhadap anak.
Saat anak mencapai usia pra remaja atau sekitar sepuluh tahun ke atas, pembicaraan tentang perubahan tubuh dan emosi saat pubertas menjadi lebih penting. Edukasi juga mencakup pemahaman tentang hubungan yang sehat, rasa hormat antar individu, serta risiko kekerasan dan ancaman di dunia digital.
Para ahli berharap pendekatan bertahap ini dapat menyiapkan anak menghadapi perubahan hidup dengan lebih percaya diri. Mereka juga menyampaikan bahwa keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak menjadi fondasi pencegahan perilaku berisiko di masa remaja.





