Megasuara.com – Jakarta, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa wabah hantavirus yang muncul di kapal pesiar MV Hondius bukan merupakan awal dari pandemi global baru seperti COVID-19. Pernyataan itu muncul setelah sejumlah kasus infeksi terdeteksi selama pelayaran kapal di Samudra Atlantik dan menimbulkan kekhawatiran publik internasional.
WHO menyatakan risiko penyebaran virus kepada masyarakat luas masih tergolong rendah karena kasus terjadi di area terbatas dan berada dalam pengawasan ketat otoritas kesehatan internasional. Kapal pesiar MV Hondius diketahui membawa sekitar 150 orang dan dijadwalkan tiba di Kepulauan Canary, Spanyol, pada akhir pekan ini.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi WHO, Maria Van Kerkhove, menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Dalam konferensi pers di Jenewa, ia menyampaikan bahwa wabah tersebut tidak memiliki pola penyebaran seperti virus corona yang sempat melumpuhkan dunia beberapa tahun lalu. WHO juga menilai sebagian besar jenis hantavirus tidak mudah menular antarmanusia.
Kasus di MV Hondius menjadi perhatian setelah beberapa penumpang mengalami gejala serius dan tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Otoritas kesehatan menduga virus Andes, salah satu varian hantavirus, menjadi penyebab utama infeksi tersebut. Tim medis segera melakukan isolasi terhadap pasien dan memeriksa seluruh penumpang serta kru kapal untuk mencegah penularan lebih luas.
Hantavirus sendiri bukan penyakit baru. Para ilmuwan telah mengenal virus tersebut sejak puluhan tahun lalu dan menemukan penyebarannya di berbagai wilayah dunia, terutama daerah dengan populasi tikus tinggi. Virus biasanya berpindah dari hewan pengerat kepada manusia melalui urin, air liur, atau kotoran tikus yang terkontaminasi. Seseorang dapat tertular ketika menghirup partikel udara yang mengandung virus tersebut.
WHO menjelaskan sebagian besar kasus hantavirus selama ini muncul secara sporadis dan tidak berkembang menjadi wabah global besar. Meski demikian, lembaga itu tetap meminta setiap negara memperkuat sistem pengawasan kesehatan, terutama di pelabuhan, bandara, dan wilayah dengan risiko tinggi kontak manusia dengan hewan pengerat.
Pakar kesehatan menilai kasus di kapal pesiar lebih mudah dikendalikan karena lokasi penyebaran relatif tertutup. Situasi itu berbeda dengan pandemi COVID-19 yang menyebar cepat melalui mobilitas manusia antarnegara. Dalam kasus MV Hondius, tim kesehatan internasional dapat melakukan pelacakan kontak lebih terarah karena jumlah penumpang terbatas dan seluruh aktivitas berada dalam satu kapal.
Meski WHO telah memberi penjelasan resmi, kabar mengenai hantavirus tetap memicu keresahan di media sosial. Sejumlah pengguna internet membandingkan situasi tersebut dengan awal kemunculan virus corona pada 2020. Bahkan, beberapa unggahan viral mengklaim hantavirus akan menjadi pandemi berikutnya. WHO meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengikuti sumber resmi pemerintah maupun lembaga kesehatan dunia.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mulai meningkatkan pemantauan terhadap penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan. Pemerintah juga meminta fasilitas kesehatan memperhatikan gejala yang berkaitan dengan infeksi hantavirus, terutama pada pasien dengan riwayat kontak di lingkungan yang dipenuhi tikus atau area tidak higienis.
Gejala hantavirus umumnya menyerupai flu pada tahap awal. Penderita dapat mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, dan tubuh lemas. Dalam kondisi berat, infeksi bisa berkembang menjadi gangguan pernapasan serius atau kerusakan ginjal. Karena gejalanya mirip penyakit lain, dokter sering membutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis.
Ahli epidemiologi mengingatkan bahwa kebersihan lingkungan tetap menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran hantavirus. Masyarakat perlu menjaga rumah dan tempat penyimpanan makanan agar tidak menjadi sarang tikus. Selain itu, proses pembersihan area yang terkontaminasi kotoran tikus harus dilakukan dengan hati-hati karena partikel virus dapat menyebar melalui udara.
WHO juga meminta operator kapal pesiar memperketat standar sanitasi dan pemeriksaan kesehatan penumpang. Industri pelayaran internasional dianggap memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran penyakit menular karena banyak orang berkumpul dalam ruang tertutup selama perjalanan panjang. Setelah pengalaman pandemi COVID-19, sejumlah perusahaan pelayaran kini menerapkan prosedur kesehatan lebih ketat untuk mencegah munculnya wabah baru.
Sejumlah negara Eropa telah menyiapkan langkah antisipasi jika ditemukan kasus tambahan setelah kapal MV Hondius tiba di pelabuhan tujuan. Otoritas kesehatan Spanyol bekerja sama dengan WHO dan pemerintah negara lain untuk memastikan proses karantina serta pemeriksaan medis berjalan lancar. Petugas kesehatan juga menyiapkan rumah sakit rujukan apabila terdapat penumpang yang membutuhkan perawatan intensif.
Pakar penyakit menular menyebut dunia saat ini jauh lebih siap menghadapi ancaman wabah dibanding beberapa tahun lalu. Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 membuat banyak negara meningkatkan kapasitas laboratorium, sistem pelacakan kontak, hingga koordinasi antarinstansi kesehatan. Karena itu, potensi penyebaran hantavirus secara global dapat ditekan lebih cepat apabila muncul kasus baru di luar kapal pesiar.
Walau risiko pandemi dinilai rendah, WHO tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis. Perubahan iklim, urbanisasi, dan rusaknya habitat hewan liar dinilai meningkatkan peluang kontak manusia dengan pembawa virus berbahaya. Para ahli mengingatkan bahwa dunia harus terus memperkuat sistem deteksi dini agar wabah dapat diatasi sebelum menyebar luas.
Kasus hantavirus di MV Hondius menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular masih ada dan dapat muncul kapan saja. Namun, WHO menegaskan situasi tersebut tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan. Langkah paling penting saat ini ialah menjaga kebersihan lingkungan, mengikuti informasi resmi, dan memperkuat kerja sama kesehatan global agar penyebaran penyakit dapat dikendalikan sejak dini.
Rekomendasi untuk kamu

Megasuara.com – Jakarta, Kuala Lumpur kembali menjadi sorotan setelah aparat keamanan Malaysia mengungkap operasi besar-besaran…

Megasuara.com – Cebu, Kehadiran para pemimpin Asia Tenggara dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-48 di…

Megasuara.com – Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya ketahanan energi sebagai agenda utama negara-negara Asia…

Megasuara.com – Cebu, Para pemimpin negara Asia Tenggara mulai berdatangan ke Cebu, Filipina, menjelang pelaksanaan…

Megasuara.com – Jakarta, Amerika Serikat meningkatkan langkah diplomasi internasional dengan mendorong resolusi Dewan Keamanan Perserikatan…
